Kisah cinta di Curug Seribu
Kisah cinta di Curug Seribu
(cerita ini
berdasarkan kisah nyata kami ber-4 ketika 1 tahun silam berada di curug 1000,
lebih seru dari pada sinetron, FTV, dan film kisah cinta lainnya, karena ini
berdasarkan kisah nyata kami ber-4)
Saat itu khendak ingin memasuki curug 1000, cuaca
saat itu juga sudah cukup mendung yang menandakan akan segera mengundang turunnya hujan. Namun kami tetap terus melanjutkan
penelusuran menuju lokasi yang membuat kami penasaran, yaitu air terjun 1000
(curug 1000).
Sebenarnya saya sudah tahu larangan di lokasi curug
1000 tersebut yang terpampang di sekitar lokasi curug 1000, namun karena ke 2
sahabat dan 1 pacarku penasaran, saya pun bertekat mengikuti keinginan mereka. Kami ber-4 terus melangkah ke depan apapun
medan yang akan menghambat niat kami tak akan membuat kami goyah. Waktu itu
sekitar pukul 3.30an sore, kami pun tak menyadari bahwa semua orang bergegas
kembali ke atas, tak ada yang searah dengan kami ketika ku melihat ke belakang.
Rata-rata mereka semua menuju ke atas peristirahatan menghirup nafas Lega.
Sesampainya kami di sekitar lokasi curug 1000,
gerimis pun turun, kami tak bisa apa2 selain berniat kembali ke atas tempat
semula sebelum hujan bertambah besar dan memperburuk keadaan. Di lokasi curug
tersebut tak ada siapa-siapa, hanya kami ber-4 disana yang sedang akan
mengalami nasib buruk. Sayangnya kami terlambat untuk kembali ke atas, karena
hujan pun semakin lebat, dan menimbulkan suara petir, bukan hanya itu saja,
banyak juga pohon yang tumbang, dan jalan kami tertutup oleh air. Sungguh
menyeramkan dan mengerikan sekali.
ketika kami terjebak diantara jalan yang telah
terisolasi oleh air. Kami tekatkan untuk menembus jalan tersebut, rasa takut
yang bercampur aduk tak kami hiraukan walaupun sebenarnya kami takut terseret
air yang membanjiri jalan tersebut dan membawa kami ke tepi jurang.
Setelah kami berhasil melewati rintangan tersebut,
tiba-tiba terdengar suara dahsyat yang tak lain adalah suara petir. Saat itu
pun tiba-tiba kaki pacar saya mengalami lumpuh sementara. Karna sungguh sangat
ketakutan dengan banjir yang kami lalui barusan dan ditambah dengan suara
dahsyat petir tersebut. Pacar saya pun pingsan, kami pikir ia tewas kehabisan
nafas. Karena saat aku melihat perubahan nafasnya sangat negatif untuk dilihat,
nafasnya sangat dikit sehingga tidak begitu terlihat oleh gerakan ataupun mata.
Saya pun panik, karena kami masih berada diantara banjir tersebut yang bisa
saja sewaktu-waktu bertambah besar dan meluas, atau tertimpa banjir bandang
dari atas kami, atau tertimbun longor secara tiba-tiba.
Saya pun segera bergegas menyuruh ke-2 sahabatku
untuk mencari pertolongan di atas. Saat itu perjalanan kami masih belum ada di
pertengahan, masih lumayan cukup jauh untuk mencapai tempat peristirahatan.
Tinggal saya ber-2 dengan pacarku. Saya pun segera memberikan nafas tambahan
kepada pacar saya. Alhamdullillah akhirnya tak sia-sia aku memberikannya,
karena ada pergerakan dan nafasnya mulai terlihat. Ia pun bicara kepadaku;
Pacarku: De**** takut say,...???
Aku: jangan takut, kan ada aku. Aku pasti
melindungi kamu say. Kamu dah bisa jalan belum? Kalau udah kita naik lagi.
Pacarku: tunggu,... aku masih lemas, istirahat
dulu.
aku: iya tapi jangan disini, kita harus lewati ini dulu takutnya banjirnya makin besar.
aku: iya tapi jangan disini, kita harus lewati ini dulu takutnya banjirnya makin besar.
Dengan memaksakan untuk berjuang dan bertahan saya
memberikan banyak motivasi kepada pacar saya.
Aku menuntunnya untuk naik ke atas, kondisinya pun
mulai sekarat, beberapa kali kehabisan nafas dan mengalami pingsan yang
memaksaku untuk memberinya beberapa kali nafas buatan.
Kulitku dan juga pacarku mulai mengalami keriput,
lemak dalam tubuh kami pun sudah tidak bisa meredakan rasa dingin yang
mencekam. Aku memutuskan untuk melepaskan pakaianku dan memakaikannya ke
pacarku, sehingga pacarku akan tetap bertahan. Aku kini semakin kedinginan dan
menggigil, system pertahanan tubuhku semakin tak bisa ku control, tapi ku tak
memperdulikan diriku sendiri. Karena
yang ku pikirkan adalah bagaimana caranya menyelamatkan dan membawa pacarku
agar sampai ke atas sebelum gelap pun tiba. Bayangkan saja 05;30 sore masih ada
di jalan setapak diantara hutan dan jurang. Ke-2 sahabatku belum juga datang kembali,
aku curiga mereka sedang beristirahat.
Kami berpelukan namun pelukan kami tak mampu
memberikan rasa hangat, kekebalan dalam tubuh kami sangat turun drastis. Saya
memberikan motivasi setiap langkah demi langkah kepada pacar saya yang
sebentar-bentar 5m beristirahat.
Jalan yang kami lalui sudah mulai dekat dengan
tempat peristirahatan karena saya tahu betul letak pos peristirahatan
sementara. Saya terus memaksa dan terus memotivasi pacar saya untuk mencapai
pos sementara. Karena jika sudah sampai pos sudah tidak ada lagi jalan yang menanjak
terjal. Melainkan hanya
tanjakan-tanjakan kecil atau ringan. Sehingga cukup untuk mengumpulkan energi
yang banyak terkuras dan mengumpulkan nafas
lega.
Sesampainya pos itu terlihat bersamaan dengan ke-2
sahabatku. Sial saja, bukannya mencari pertolongan malahan dari tadi memeras
baju yang mereka kenakan dan menjemurnya. Wedan tenan,.. teman lagi kesusahan
malah memikirkan diri sendiri. Kami ber-2 pun memarahinya Asu.
Kami telah berkumpul kembali dan sama-sama bisa
menghirup nafas lega. Sekiranya cukup untuk segala sesuatunya, kami ber-4 pun
melanjutkan perjalanan meski mengalami banyak istirahat di pacar saya. Ampun
deh ga lagi-lagi ngajak dia.
Ternyata ketika sudah sangat hampir sampai tempat
peristirahatan, di sekitar toilet lokasi perkemahan jalanan masih terisolasi
banjir, kami takut terperosok karna kami sudah sama-sama lelah dan tak berdaya.
Saat khendak ingin menyebrangi jalan yang banjir tersebut datanglah kaka
pemimpin pramuka bermaksud ingin membantu kami menyebrang.
Setelah kami semua berhasil menyebrangi jalan
tersebut, kami semua mengucapkan terimakasih kepada kaka pembina pramuka yang
telah membantu kami menyebrangi jalan yang terisolasir. Andai dia membantu
pacar saya dari yang pas awal pingsan mungkin takkan banyak menyita waktu untuk
mencapai tempat peristirahatan.
Kami semua akhirnya
bersyukur masih bisa selamat dari segala bencana, musibah, cobaan yang baru
saja menimpa pada kami dan pas sampai tempat peristirahatan pukul 06.00
maghrib. Sesampainya di tempat peristirahatan, di warung-warung kami memesan
susu hangat pacar saya. Hehehehee susu mba darmi, ups masih salah juga. Yang
benar susu sachet yang kami pesan kepada pemilik warung tersebut.
Cobaan masih belum berakhir, ketika khendak pulang
hujan pun tak jua berhenti, kami sangat kedinginan. Beberapa kali kami berteduh
dengan pakaian kami yang semuanya basah kuyub. Hingga saya frustasi merasa
penghentian kami ini hanya sia-sia, yang akan hanya menyita banyak waktu. Tak
terbayangkan sampai rumah jam berapa. Walau dingin dan menggigil, kami terus
memaksakan perjalanan tersebut. Tak peduli sakit yang akan datang merasuki
tubuh kami.
Akhirnya hujan pun berhenti juga setelah sesampainya
di daerah parung, cukup melegakan perasaan yang mulai mengganggu fungsi otak
kami,
Komentar
Posting Komentar